Keong Laut dan Rumah Mungilnya

Kisahku…..

Pulang dari piknik di suatu pantai di Jakarta Pusat yang dekat dari rumah, aku keluarkan serpihan kulit kerang dan rumah keong yang kuambil dan kukumpulkan dari gundukan pasir putih.

Niat awal, setelah kucuci dan kubersihkan dari kerak pasir, aku ingin berikan pada anak perempuanku yang masih duduk di bangku TK, bahwa ada makhluk-makhluk laut yang mungil dan imut yang hidup di sana.

Baru tujuh hari kemudian, aku tiba-tiba teringat pada rumah-rumah keong itu.
Namun, setelah kucuci bersih, aku beri ke anak perempuanku.

Sungguh bahagia sekali  melihatnya antusias dengan benda mungil yang baru dikenalnya itu.

Look Daddy, what is that?”; teriaknya.

Tak usah heran jika anak-anak sekarang lebih cepat mahir dan fasih menguasai bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya meski tiada yang mengajarinya. Yup, Youtube memudahkan belajarnya. Hehehe…

Saat ia letakkan mainan barunya itu, perhatianku tertuju pada satu rumah keong laut….

Sembari kuamati, aku bolak balik, aku lihat lebih dekat ke dalam lubangnya

Saat kutiup…butir-butir pasir lembut terhambur keluar.

Sejenak aku tersadar bahwa pada akhirnya aku tidak akan ada bedanya dengan keong-keong itu?

Mungkin dari kawan-kawan ada yang menebak…”maksudnya nasib kita bakalan kayak keong?” Hehehe….

Bukan itu maksudnya, sekali lagi bukan itu.

Aku lahir ke dunia tanpa membawa bekal apa-apa.

Begitu juga kelak saat masa hidupku telah tiada.

Tak beda dengan keong-keong laut yang di akhir hidupnya hanya menyisakan rumah mungilnya di tengah padang laut yang luas.

Harta berlimpahpun tiada ikut kubawa ke dalam sepetak galian tanah berukuran satu kali dua meter. Di sanalah pembaringan tubuh berakhir.

Bisa jadi, hidupku tidak lebih mulia dari seekor keong yang selalu bersyukur pada Ilahnya.

Bisa jadi ia selalu bersyukur, selalu menyebut asma Ilahnya, dan tiada mengeluh pada Ilahnya meski rumah yang ia punya hanyalah berukuran sangat mungil, hanya cukup untuk tubuhnya yang juga sangat mungil.

Sementara ia berjalan, tubuh mungilnya diterpa ombak menggulung, seringkali diserang dan melawan binatang-binatang laut yang ingin memangsanya. Dan…ia hanya punya sepasang capit kecil.

Namun, jika belum waktu ajalnya tiba, iapun bebas menikmati anugerah hidup dari Ilahnya.Karena ia dalam penjagaan dan pemeliharaan Ilahnya”.

Jika hidup ini terdapat pilihan yang dapat aku dan engkau pilih, maka pilihan itu tentunya hanya untuk lakukan yang terbaik, yang membuat kita terus tumbuh menjadi pribadi yang baik dari waktu ke waktu kan?

Meski kita bukan keong. Namun, rumah yang kita miliki saat ini atau nanti, semoga kemudian akan selalu menjadi rumah yang di dalamnya mengalir berbagai kebaikan-kebaikan yang memuliakan kehidupan orang yang menempatinya.

Hidup mulia adalah yang menghidupkan dan menghidupi kan?

Semoga Maha Pemilik Kehidupan ini meridhai…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s