Service IKHLAS Cleaning Service dan OB

Hampir setiap kisah perihal service excellent yang diangkat sebagai contoh pada seputar pelayanan adalah yang terkait dengan customer service, teller, front office, sales counter, hingga sekuriti. Yang notabene, semua dari mereka yang berada di posisi depan, ditempatkan di pintu masuk perusahaan, bertemu face to face dengan pengunjung maupun pelanggan.

Dan betapa jarang kisah pelayanan seputar para petugas cleaning service dan office boy. Selama ini sebagian dari kita mengartikan keduanya sama. Meski dari namanya saja sudah sangat jelas berbeda, begitu juga dengan apa yang mereka kerjakan tentunya.

Dibawa keingin tahuan yang tinggi, setelah melakukan pengamatan intensif terhadap petugas cleaning service dan OB di mall, supermarket, dan perkantoran, ada pelajaran bernilai emas yang perlu dipetik untuk selanjutnya di tindak lanjuti khususnya untuk para customer service, teller, front office, sales counter, hingga sekuriti yang ingin sukses melayani pelanggan, yaitu IKHLAS.

Perhatikan…setiap kali Anda bertemu petugas cleaning service dan OB yang selalu ke manapun mereka berada, yang mereka bawa alat-alat pembersih : kain lap, cairan pembersih kaca, alat pembersih lantai atau pengepel lantai.

Mari ambil satu aktivitas mereka saat membersihkan lantai. Mereka terus aktif mengepel lantai berukuran panjang kali lebar yang tidak sempit itu, hampir jarang terlihat mereka berhenti kecuali istirahat sejenak. Berulang kali pula lantai yang telah bersih, bahkan mengkilap itu harus kembali dikotori bekas jejak telapak sandal, jejak sepatu, jejak troli orang-orang yang lalu lalang.

Meski dari pihak pengelola gedung sudah mem-briefing tentang kerja IKHLAS setiap sebelum memulai aktivitas mereka. Dulu… kali pertama bertugas sebagai cleaning service dan OB, mungkin hati mereka pernah merasa kesal, jengkel, ngedumel, bahkan sampai menyumpahi para pengunjung yang lalu lalang dengan santainya mengotori lantai yang sudah bersih itu. Setuju atau menolak, hanya ada 2 pilihannya. Pertama, menerima kondisi tersebut atau yang kedua, memutuskan resign saja.

Namun, seiring waktu, perasaan-perasaan yang tidak memberdayakan diri itu perlahan mulai terkikis dan hilang. Hati yang keras mulai melunak. Di sanalah proses ‘penerimaan’ dari dalam diri para petugas cleaning service dan OB itu muncul. Berganti IKHLAS.

Siapa saja boleh mengunggulkan strategi ampuh, tips jitu yang akan berhasil diajarkan kepada para profesional di departemen atau divisi apapun. Namun, saat semua itu dilakukan tanpa ditumbuhkan selalu ke-IKHLAS-an dalam dirinya, maka bisa dipastikan yang ditampilkan dan dimunculkan hanya akan bagus dari tampilan sisi luarnya saja. Kenyataannya adalah keterpaksaan. Senyum karena terpaksa, memberi salam karena terpaksa, menyapa karena terpaksa, bersikap ramah karena terpaksa, melayani karena terpaksa. Bayangkan, apa jadinya jika semua dilakukan karena terpaksa. Padahal jauh di dalam hati letak IKHLAS itu bersemayam, di sanalah hanya masing-masing pribadi yang mengetahuinya.

Bandingkan saat semua kata KARENA TERPAKSA itu diganti IKHLAS.

Senyum karena terpaksa DIGANTI Senyum IKHLAS

Memberi salam karena terpaksa DIGANTI Memberi salam IKHLAS

Menyapa karena terpaksa DIGANTI Menyapa IKHLAS

Bersikap ramah karena terpaksa DIGANTI Bersikap IKHLAS.

Melayani karena terpaksa DIGANTI Melayani IKHLAS.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s