Service IKHLAS Cleaning Service dan OB

Hampir setiap kisah perihal service excellent yang diangkat sebagai contoh pada seputar pelayanan adalah yang terkait dengan customer service, teller, front office, sales counter, hingga sekuriti. Yang notabene, semua dari mereka yang berada di posisi depan, ditempatkan di pintu masuk perusahaan, bertemu face to face dengan pengunjung maupun pelanggan.

Dan betapa jarang kisah pelayanan seputar para petugas cleaning service dan office boy. Selama ini sebagian dari kita mengartikan keduanya sama. Meski dari namanya saja sudah sangat jelas berbeda, begitu juga dengan apa yang mereka kerjakan tentunya.

Dibawa keingin tahuan yang tinggi, setelah melakukan pengamatan intensif terhadap petugas cleaning service dan OB di mall, supermarket, dan perkantoran, ada pelajaran bernilai emas yang perlu dipetik untuk selanjutnya di tindak lanjuti khususnya untuk para customer service, teller, front office, sales counter, hingga sekuriti yang ingin sukses melayani pelanggan, yaitu IKHLAS.

Perhatikan…setiap kali Anda bertemu petugas cleaning service dan OB yang selalu ke manapun mereka berada, yang mereka bawa alat-alat pembersih : kain lap, cairan pembersih kaca, alat pembersih lantai atau pengepel lantai.

Mari ambil satu aktivitas mereka saat membersihkan lantai. Mereka terus aktif mengepel lantai berukuran panjang kali lebar yang tidak sempit itu, hampir jarang terlihat mereka berhenti kecuali istirahat sejenak. Berulang kali pula lantai yang telah bersih, bahkan mengkilap itu harus kembali dikotori bekas jejak telapak sandal, jejak sepatu, jejak troli orang-orang yang lalu lalang.

Meski dari pihak pengelola gedung sudah mem-briefing tentang kerja IKHLAS setiap sebelum memulai aktivitas mereka. Dulu… kali pertama bertugas sebagai cleaning service dan OB, mungkin hati mereka pernah merasa kesal, jengkel, ngedumel, bahkan sampai menyumpahi para pengunjung yang lalu lalang dengan santainya mengotori lantai yang sudah bersih itu. Setuju atau menolak, hanya ada 2 pilihannya. Pertama, menerima kondisi tersebut atau yang kedua, memutuskan resign saja.

Namun, seiring waktu, perasaan-perasaan yang tidak memberdayakan diri itu perlahan mulai terkikis dan hilang. Hati yang keras mulai melunak. Di sanalah proses ‘penerimaan’ dari dalam diri para petugas cleaning service dan OB itu muncul. Berganti IKHLAS.

Siapa saja boleh mengunggulkan strategi ampuh, tips jitu yang akan berhasil diajarkan kepada para profesional di departemen atau divisi apapun. Namun, saat semua itu dilakukan tanpa ditumbuhkan selalu ke-IKHLAS-an dalam dirinya, maka bisa dipastikan yang ditampilkan dan dimunculkan hanya akan bagus dari tampilan sisi luarnya saja. Kenyataannya adalah keterpaksaan. Senyum karena terpaksa, memberi salam karena terpaksa, menyapa karena terpaksa, bersikap ramah karena terpaksa, melayani karena terpaksa. Bayangkan, apa jadinya jika semua dilakukan karena terpaksa. Padahal jauh di dalam hati letak IKHLAS itu bersemayam, di sanalah hanya masing-masing pribadi yang mengetahuinya.

Bandingkan saat semua kata KARENA TERPAKSA itu diganti IKHLAS.

Senyum karena terpaksa DIGANTI Senyum IKHLAS

Memberi salam karena terpaksa DIGANTI Memberi salam IKHLAS

Menyapa karena terpaksa DIGANTI Menyapa IKHLAS

Bersikap ramah karena terpaksa DIGANTI Bersikap IKHLAS.

Melayani karena terpaksa DIGANTI Melayani IKHLAS.

Iklan

Tes Personaliti Bukan untuk Menghakimi

Berbagai tes kepribadian (Personality Test) diciptakan oleh para ahli dari psikologi, digunakan untuk mengetahui tipe kepribadian, karakter, keunggulan, maupun kelemahan manusia.

Saat tes ini diberikan dan diisi oleh setiap orang, sangat menarik perhatian, karena pada akhirnya masing-masing mulai melakukan cek n’ ricek ke dalam diri mereka, selain terkagum-kagum membaca deskripsi secara luas tentang dirinya, Setelah mengetahui hasilnya, selanjutnya mereka semakin dibawa penasaran untuk memetakan potensinya. Alhasil, kebanyakan dari mereka  kemudian lebih optimis dalam melakukan aktivitasnya.

Mungkin Anda mengenal beberapa alat personality test, antara lain seperti MBTI, DISC, Sanguinis Plegmatis Melankolis, Eneagram, dan masih banyak lagi.

Hal ini dapat menjadi referensi bermanfaat bagi Anda. Namun, ada beberapa hal yang sangat perlu dicermati dalam penggunaanya bahwa Tes Kepribadian bukan digunakan untuk mengelompokkan keterbatasan pada diri setiap orang dengan tujuan selanjutnya menghakiminya secara absolut.

Selain itu, Tes kepribadian bukan sepenuhnya digunakan untuk menilai keburukan kepribadian seseorang dan menyampaikannya kepada yang bersangkutan dengan maksud untuk mendemotivasinya.

Sebaliknya bahwa setiap informasi yang dihasilkan dari tes kepribadian tersebut akan sangat bermanfaat untuk lebih memotivasi dan mengoptimisasi seseorang.  Selain itu, alat tes kepribadian merupakan hasil penelitian dari para ahli psikologi.

Seakurat itukah hasilnya?

Tentu saja, dengan segala keterbatasannya sebagai manusia, para ahlipun bisa melakukan kesalahan-kesalahan, meskipun mungkin kecil kemungkinannya. Artinya tidak ada yang mutlak 100% benar dapat diandalkan dari tes itu. Kembali lagi, hanya yang Maha Mencipta manusia yang sangat mengetahui siapa diri kita masing-masing, juga diri kita sendiri tentunya.

Akan lebih bijak, jika kita mengatakan bahwa setiap orang itu unik. Artinya, memang tidak ada orang yang sama persis karakternya, sekalipun itu saudara kembar. Itulah anugerah Ilahi.

Kurang lebih Tes Personaliti hanya dapat mewakilkan gambaran perilaku, karakter, apapun namanya itu…dari setiap individu dengan segala keunggulannya dan kelemahannya (keterbatasannya) sebagai pribadi ciptaan Ilahi. Dan justru karena keterbatasannya itu seseorang menjadi lebih mudah dalam melakukan asosiasi dan diasosiasi, misal:

  • Lebih mudah memahami kegiatan apa saja yang dapat dilakukannya dan cocok untuknya; begitu juga dalam memahami, menghargai karya cipta, pendapat, dan persepsi orang lain
  • Lebih mudah mengenal dan memahami keunggulan dan kelemahan diri serta orang lain
  • Lebih mudah mengenal kebiasaan dan karakter diri serta orang lain
  • Lebih mudah mengenal dan mengartikan alasan-alasan sebenarnya apa saja yang dikemukakan orang lain
  • Lebih mudah mengetahui cara-cara apa saja yang umumnya dilakukan untuk mencapai keberhasilannya, begitu juga bagaimana seseorang bisa mengalami kegagalan dalam hubungan bisnis, pekerjaan, dan keluarganya.

Intinya, tujuan Tes Personaliti memudahkan Anda dalam membangun hubungan dan silaturahim lebih komunikatif, asertif, dan obyektif dengan siapa saja, termasuk diri Anda.

5S Ubah Jadi Rapi Rumah Berantakan

Apa jadinya ketika Anda meletakkan sesuatu yang bukan pada tempatnya? Apa dampaknya untuk Anda?

Perhatikan meja kerja Anda, apakah Anda selalu merapikan dokumen-dokumen ke dalam almari filing selesai Anda bekerja?

Perhatikan kamar tidur Anda, apakah pakaian-pakaian yang tidak jadi Anda pakai bertebaran di atas kasur?

Perhatikan ruang tamu Anda, apakah buku-buku dan majalah-majalah sudah kembali ke raknya?

Seorang ayah yang pulang kerja mengeluh bahwa ia lebih senang pulang malam daripada pulang sore, karena setelah sampai rumah, ia menjadi lebih lelah melihat mainan anaknya berserakan di lantai dan sofa ruang keluarga, juga tumpukan piring serta gelas kotor di atas meja TV.

Kondisi seperti ini sangat banyak kita temui di lingkungan kita. Bahkan sekali waktu seorang kawan berkisah, betapa ia merasa malu, karena saat sampai di rumahnya, rekan bisnisnya sedang menunggu di ruang tamu, sementara ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang tamu tampak sangat berantakan dengan ‘remah-remah’makanan bertebaran di karpet dan krayon, pensil warna, dan buku gambar berserakan di atas sofa dan meja ruang keluarga.

Sebagian orang menyadari bahwa kondisi lingkungan akan mempengaruhi kondisi emosi mereka. Namun, tidak jarang juga beberapa orang yang mengeluh hanya melihat tanpa  bertindak apapun juga.

Satu hal lagi, kecenderungan orang-orang tertentu melihat dan menilai kondisi yang sebenarnya ‘kecil’, namun disikapinya  sebagai sesuatu yang ‘luas’. Akibatnya mereka langsung memaknai hal itu sebagai ‘big problem’. Meskipun, untuk merapikan dan menata ‘kesemrawutan’ itu cukup dengan mengomunikasikannya dengan anak-anaknya atau dengan pengasuhnya atau langkah terakhir dengan cara merapikan sendiri. Sekali waktu, Anda perlu mencoba menata, merapikan, dan meletakkan pada tempatnya semua itu sambil Anda hitung berapa lama waktu yang Anda butuhkan mengatasinya.

Mungkin Anda pernah tahu metode 5S?

Suatu metode yang digunakan untuk penataan dan pemeliharaan wilayah kerja secara insentif, yang berasal dari Jepang (sumber : Wikipedia).

Adapun 5S itu sendiri terdiri dari :

  • Seirin (Sort / Ringkas) adalah kegiatan menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan sehingga segala barang yang ada di lokasi kerja hanya barang yang benar-benar dibutuhkan dalam aktivitas kerja.
  • Seiton (Set / Rapi) adalah segala sesuatu harus diletakkan sesuai posisi yang ditetapkan sehingga siap digunakan pada saat diperlukan
  • Seiso (Shine / Resik) adalah kegiatan membersihkan peralatan dan daerah kerja sehingga segala peralatan kerja tetap terjaga dalam kondisi yang baik.
  • Seiketsu (Standardize / Rawat) adalah kegiatan menjaga kebersihan pribadi sekaligus mematuhi ketiga tahap sebelumnya
  • Shitsuke (Sustain / Rajin) adalah pemeliharaan kedisiplinan pribadi masing-masing pekerja dalam menjalankan seluruh tahap 5S

Kegiatan ini harus dilakukan secara bertahap dan berurutan, artinya tidak bisa dilakukan secara acak.

Mungkin, bagi Anda yang tahu 5S ini, suatu waktu pernah terlintas dalam pikiran Anda untuk mencoba mengaplikasikannya.

Atau bagi Anda yang baru mengetahuinya, 5S ini dapat menjadi referensi baru untuk menyulap rumah Anda yang selama ini berantakan menjadi rumah yang selalu nyaman dan membuat Anda rindu untuk selalu ingin pulang ke rumah.

Masih ingatkah Anda bahwa rumah itu adalah rumah Anda? Artinya, yang akan merasa happy dengan kerapiannya juga Anda.

Oya, sudahkah Anda hitung berapa lama waktu untuk menyulap rumah Anda menjadi ‘kinclong’ lagi? Wow, good job, cuma perlu waktu 15 menit sampai 20 menit. Yang puas melihat semuanya membaik juga Anda.

Seringkali; kesal, lelah, dan keluh kesah (baca: keluhan) yang semula Anda rasakan tadi, seketika lenyap berganti bahagia.

Bagi Anda orang tua yang mempunyai anak-anak yang aktif, 5S ini sangat simpel, artinya bisa disampaikan ke mereka, sehingga dapat membentuk kebiasaan disiplin sejak dini.

Gunakan 5S di tempat kerja itu biasa, gunakan 5S di rumah itu baru luar biasa.

Jadi sekarang saatnya mulai terapkan 5S di rumah kan?

Keong Laut dan Rumah Mungilnya

Kisahku…..

Pulang dari piknik di suatu pantai di Jakarta Pusat yang dekat dari rumah, aku keluarkan serpihan kulit kerang dan rumah keong yang kuambil dan kukumpulkan dari gundukan pasir putih.

Niat awal, setelah kucuci dan kubersihkan dari kerak pasir, aku ingin berikan pada anak perempuanku yang masih duduk di bangku TK, bahwa ada makhluk-makhluk laut yang mungil dan imut yang hidup di sana.

Baru tujuh hari kemudian, aku tiba-tiba teringat pada rumah-rumah keong itu.
Namun, setelah kucuci bersih, aku beri ke anak perempuanku.

Sungguh bahagia sekali  melihatnya antusias dengan benda mungil yang baru dikenalnya itu.

Look Daddy, what is that?”; teriaknya.

Tak usah heran jika anak-anak sekarang lebih cepat mahir dan fasih menguasai bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya meski tiada yang mengajarinya. Yup, Youtube memudahkan belajarnya. Hehehe…

Saat ia letakkan mainan barunya itu, perhatianku tertuju pada satu rumah keong laut….

Sembari kuamati, aku bolak balik, aku lihat lebih dekat ke dalam lubangnya

Saat kutiup…butir-butir pasir lembut terhambur keluar.

Sejenak aku tersadar bahwa pada akhirnya aku tidak akan ada bedanya dengan keong-keong itu?

Mungkin dari kawan-kawan ada yang menebak…”maksudnya nasib kita bakalan kayak keong?” Hehehe….

Bukan itu maksudnya, sekali lagi bukan itu.

Aku lahir ke dunia tanpa membawa bekal apa-apa.

Begitu juga kelak saat masa hidupku telah tiada.

Tak beda dengan keong-keong laut yang di akhir hidupnya hanya menyisakan rumah mungilnya di tengah padang laut yang luas.

Harta berlimpahpun tiada ikut kubawa ke dalam sepetak galian tanah berukuran satu kali dua meter. Di sanalah pembaringan tubuh berakhir.

Bisa jadi, hidupku tidak lebih mulia dari seekor keong yang selalu bersyukur pada Ilahnya.

Bisa jadi ia selalu bersyukur, selalu menyebut asma Ilahnya, dan tiada mengeluh pada Ilahnya meski rumah yang ia punya hanyalah berukuran sangat mungil, hanya cukup untuk tubuhnya yang juga sangat mungil.

Sementara ia berjalan, tubuh mungilnya diterpa ombak menggulung, seringkali diserang dan melawan binatang-binatang laut yang ingin memangsanya. Dan…ia hanya punya sepasang capit kecil.

Namun, jika belum waktu ajalnya tiba, iapun bebas menikmati anugerah hidup dari Ilahnya.Karena ia dalam penjagaan dan pemeliharaan Ilahnya”.

Jika hidup ini terdapat pilihan yang dapat aku dan engkau pilih, maka pilihan itu tentunya hanya untuk lakukan yang terbaik, yang membuat kita terus tumbuh menjadi pribadi yang baik dari waktu ke waktu kan?

Meski kita bukan keong. Namun, rumah yang kita miliki saat ini atau nanti, semoga kemudian akan selalu menjadi rumah yang di dalamnya mengalir berbagai kebaikan-kebaikan yang memuliakan kehidupan orang yang menempatinya.

Hidup mulia adalah yang menghidupkan dan menghidupi kan?

Semoga Maha Pemilik Kehidupan ini meridhai…

Banyak Mengulang, Banyak Berlatih, Makin Mahir

Pasukan khusus ke-5 Tentara Baret Hijau dikisahkan memulai program pelatihan kepemimpinan selama beberapa minggu di kantor eksekutif General Electric. Yang mereka lakukan sangat simpel, setiap pagi mereka datang ke kantor dan mendampingi para eksekutif sepanjang hari. Tidak ada tanggung jawab apapun yang mereka harus lakukan selain mengamati para eksekutif bekerja.

Setelah mereka kembali ke kesatuan, komandan mereka mengamati adanya suatu peningkatan signifikan pada kinerja, komunikasi, serta kepemimpinan. Dan di luar dugaan, Letnan Kolonel Dean Franks, komandan Batalion Grup ke-5 sangat senang dengan keberhasilan program itu dan berencana mengadakan kegiatan seperti itu lagi lebih banyak di masa mendatang.

Pengajar tenis dan penulis, Timothy Gallwey, pada acara TV 60 minutes mengumpulkan sekelompok paruh baya yang belum pernah bermain tenis. Kemudian, Gallwey melakukan tes singkat untuk menguji kemampuan mereka.

Ia memilih seorang wanita yang memperlihatkan potensi paling sedikit. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Gallwey melakukan pukulan forehand, sementara wanita tadi hanya mengamati.

Gallwey mengarahkan perhatian wanita tersebut padanya. Dia tunjukkan kepada wanita itu bagaimana kuda-kuda kaki, menggenggam raket, dan mengayun raket saat akan memukul bola. Wanita itu memerhatikan dengan sungguh-sungguh, lalu mulai meniru gerakannya. Dalam waktu 20 menit secara mengejutkan wanita itu sudah mampu melakukan forehand yang lumayan.

Contoh lain yang melibatkan sensori pendengaran adalah metode Suzuki memelajari musik. Setiap hari di luar pelajaran mereka, murid-murid Suzuki mendengarkan beberapa lagu yang diawali dengan lagu Twinkle, Twinkle Little Star; kemudian meningkat ke irama yang lebih sulit. Latihan mendengarkan ini membentuk peta perasaan yang kuat dalam memori ingatan mereka yang dapat mengukur keberhasilan atau kegagalan dari setiap usaha yang dilakukan setelahnya.

Setiap Anda melakukan pengulangan, otak menambah lapisan myelin ke jaringan-jaringan tertentu. Myelin  merupakan lapisan yang fungsinya membalut jaringan otak, persis seperti selotip yang membungkus kabel listrik. Myelin menyebabkan sinyal bergerak lebih cepat serta mencegahnya tidak bocor. Semakin sering berlatih, semakin banyak myelin yang diperoleh, sinyal terkirim semakin cepat dan akurat. Dengan demikian kemahiran yang Anda dapatkan semakin banyak.

Peningkatan adalah soal menyerap dan menerapkan informasi baru dan sumber informasi terbaik. Selain itu tercipta koneksi yang kuat dari memerhatikan dan mendengarkan secara sungguh-sungguh hingga Anda mampu membayangkan rasanya mempraktikan kemahiran itu.

Untuk kemahiran bersifat fisik, proyeksikan diri Anda berada dalam tubuh orang yang mempraktikkan kemahiran tersebut.

Untuk kemahiran yang bersifat mental, simulasikan kemahiran itu dengan mencipta pola-pola keputusan yang dilakukan oleh para pakar di bidang itu.

Pribadi Berkelas, Berhati Emas

Mungkin Anda pernah datang ke suatu hotel mewah, katakanlah bintang lima. Memasuki lobi, tampak hotel menunjukkan kesan mewahnya dengan suhu AC yang sejuk semilir, sofa yang nyaman saat Anda duduki, penataan interior yang elegan dan pencahayaan yang memanjakan mata untuk betah membaca majalah fashion, terdengar alunan musik klasik nan merdu, tercium aroma wangi yang khas seketika membuat Anda semakin rileks. Saat masuk disambut keramahan dan sepenuh hati dari setiap karyawan yang Anda temui di lobi hotel, selanjutnya Anda ditawari welcome drink.

Saya yakin, meskipun Anda belum pernah berkunjung ke hotel tersebut, saat ini bisa jadi Anda sedang membayangkan, memikirkan, dan merasakan betapa nyamannya membetahkan diri berada di dalam hotel tersebut.

Satu ruang yang disebut lobi saja dapat memanjakan setiap tamu yang akan menginap atau sekadar bersantai sendiri maupun sambil menunggu rekan. Sungguh suatu suguhan kenikmatan dan kenyamanan yang cuma-cuma bagi setiap tamu yang hadir, bukti hotel berkelas yang berkualitas menciptakan pengalaman yang memuaskan tamu hotel.

Bayangkan jika lobi hotel itu adalah hati kita….

Hati yang dapat membuat setiap orang yang kita dekati dan mendekati merasa nyaman dan menyenangkan. Hati yang selalu tertata, terjaga, terpelihara, dan senantiasa bersih dari buruknya prasangka, senantiasa bersih dari buruknya kata-kata, senantiasa bersih dari buruknya lelaku.

Setiap ucapan menjadi nasihat, setiap perbuatan menjadi amal kebaikan yang menyenangkan dan menenangkan hati orang lain. Saat ia datang sebagai rahmat, saat ia pulang menjaga amanat.

Itulah…. Pribadi Berkelas, Berhati Emas.

 

8 Dosa Plus 8 Reminder Penjual Profesional

Menjual adalah mengenai diri Anda. Saat Anda menjual, Anda sedang membincangkan prospek, pelanggan, dan selanjutnya Anda. Anda datang pada prospek dan pelanggan dengan membawa identitas perusahaan, menyingkirkan keraguan mereka, dan membuka keyakinan mereka pada penawaran terbaik Anda.

Prospek dan pelanggan adalah orang-orang yang bebas menilai. Anda tidak bisa menahan mereka untuk tidak mengatakan sesuatu yang buruk tentang Anda, tentang produk yang Anda jual, dan tentang perusahaan Anda. Tidak, Anda tidak memiliki hak untuk membatasi itu semua. Karena sudah menjadi tugas Anda sebagai salesman untuk menyediakan waktu Anda untuk mereka dan bersedia menyimak apa yang mereka sampaikan. Suka atau tidak suka, inilah bagian dari profesi yang melekat pada diri Anda.

Tahukah Anda berapa jumlah salesman yang setiap hari keluar dari kantor mereka? Anda dan saya sudah tahu pasti… sangaaatlah banyak. Dan, apakah mereka benar-benar siap melakukan tugasnya?

Begitu banyak salesman yang setiap hari rutin melakukan aktifitasnya. Berangkat pagi dan pulang sore atau pulang malam hari. Hal yang wajar dilakukan oleh karyawan manapun. Namun, bukan itu intinya. Berapa orang yang Anda kunjungi? Bagaimana respon mereka dengan kehadiran Anda? Bagaimana Anda menjawab setiap pertanyaan mereka> Bagaimana Anda menjawab dan memberi penjelasan yang mudah mereka mengerti? Bagaimana hasil kunjungan Anda hari ini?

Kesiapan dan persiapan sebelum ‘bertempur’ adalah hal yang mengindikasikan hasil seperti apa yang akan Anda dapatkan sesudahnya.

Persoalan kebanyakan salesman bukan karena mereka tidak bisa menjual atau tidak mau menjual. Namun, mereka belum benar-benar siap menjual. Bayangkan, apa yang akan salesman jual, jika belum tahu apa yang akan mereka jual? Yang terjadi dan akan berbahaya bagi reputasi perusahaan dan pelanggan adalah saat para salesman hanya bermodalkan ‘nekat’ semata. Alih-alih ingin cepat mendapat untung, malah ‘buntung’ alias nihil penjualan.

Berikut ini 8 reminder yang para penjual maupun sales person perlu ketahui sebelum jualan. Jika ‘dilanggar’, jadinya dosa tuh. Hehehe… So. Check it out !  :

  1. “JUALAN DI DEPAN”

Penjual manapun inginnya semua dagangan laku habis terjual dalam waktu cepat.

Siapa yang mau jualan kayak gini? Ayo ngacung…! Hehehe…

Saya yakin dari pedagang kaki lima sampai sales produk apapun pengennya begitu. Berangkat pagi, ketemu banyak prospek alias calon pembeli potensial, nawar-nawarin dagangan, nggak pakai lama, nggak ada orang yang nolak…langsung beli.

Dalam bayangan dan pikiran kita berkata…”Oh betapa bahagianya jualan laris terus ya”.

Tapi…apa selalu begitu kenyataannya?

Di antara sekian banyak penjual ingin dagangannya cepat laku tanpa perlu capek-capek jelasin ke konsumen sampai lidah dan mulut capek.

Padahal, ada suatu aturan nggak tertulis dalam jualan apapun itu, yaitu:

jangan pernah jualan di depan. (baca : kalau ketemu orang, jangan pernah langsung nawarin produk).

Loh kok gitu, gimana produk bisa laku terjual kalau nggak jualan di depan?

Kan udah tugas dan kewajiban sales buat jualan, kok gak boleh jualan di depan sih?”, ini seriiiing saya dengar dari banyak penjual waktu mereka dengar dan baca pernyataan ini.

Yuk, mungkin Anda pernah mengalami ini :

Waktu lagi jalan-jalan ke mall, trus ada SPG sambil bawa brosur produk datang deketin nawarin alat kesehatan sambil bilang “silakan, boleh coba dulu”.

Kira-kira apa Anda langsung nerima atau nolak tawarannya?

Hampir 90% orang menjauh atau menolak saat didekati oleh penjual, alasannya simpel, karena orang nggak suka dijuali.

Artinya, kita juga begitu kan.

Seperti ada tombol alarm otomatis di kepala kita yang  langsung bunyi buat menolak kehadiran orang yang tidak atau belum dikenal sebelumnya.

Dan dalam diri kita bilang:

ini orang siapa ya?”

ini orang mau apa ya?”

apa maksudnya dia deket-deket ya?

Faktanya siapapun akan mencari produk (barang atau jasa) yang ia benar-benar butuhkannya.

So, sabarlah. Tarik nafas, berdoa, dan coba lakukan aja ini:

Persisten alias tekun mendekati, mengenalkan, dan menginformasikan: identitas Anda, produk yang Anda jual, perusahaan Anda, dan keunggulan, fitur, serta manfaat produk Anda yang pelanggan akan dapati setelah beli dan menggunakan produkmu.  

  

  1. NGGAK MENGHARGAI PROFESI

Apa jadinya sales yang malu mengakui bahwa profesinya sales?

Padahal, sehari-harinya dia telpon prospek atau telpon pelanggan, bikin janji temu, rutin lakukan kunjungan, hampir setiap pagi selalu  bilang ke atasan bahwa hari ini dia udah bikin janji temu, mau ke kantor klien, mau ke tokonya prospek, dan lain sebagainya.

Tapiii…lagi-lagi waktu ketemu prospek dan memperkenalkan diri…ngakunya :

saya bukan sales, saya ini marketing executive”.

saya bukan sales, saya agen pemasaran.”

Dan masih banyaaaaaak lagi alasan lain yang intinya berdalih kalau dia itu nggak mau dipanggil sales. Alasannya, hampir seragam…karena ”nggak nyaman dipanggil sales”.

Padahal, udah jelas-jelas di kartu namanya tertulis SALES EXECUTIVE atau SALES REPRESENTATIVE atau SALES ENGINEERING atau SALES apapun….yang ujung-ujungnya yaitu jualan juga.

Bukan itu aja, dulu waktu melamar kerja, jelas-jelas tahu lowongannya buat posisi sales. Waktu tanda tangan kontrak kerja di perusahaan, lagi-lagi juga tahu kalau kerjaannya sales. Kenapa sesudahnya gengsi ngaku ‘saya sales’? Hehehe…

Nah loh, kalau dari awal aja udah malu mengakui diri sebagai sales, dari awal udah gak mengakui profesinya, dari awal udah nolak jadi sales…gimana bisa semangat jualan dan bisa lancar jualan?

Nah tuh kan baru ngeh selama ini jualan gak laku-laku amat, jualan sering sepinya daripada larisnya, ternyata karena salah satunya masih malu-malu jadi sales.

Trus gimana dong solusinya?

Profesi itu ibarat pakaian.

Saat Anda bercermin menggunakan pakaian itu. Bagaimana Anda menilai penampilanmu?

Saat menggunakan pakaian itu, kemudian Anda bertemu orang-orang yang Anda kenal, apa kata mereka tentangmu?

Apa yang Anda rasakan saat mereka memuji penampilanmu dan senang melihatmu?

Apa yang Anda rasakan saat mereka mengkritik penampilanmu?

Cocok atau tidaknya pakaian itu tergantung bagaimana Anda, bagaimana Anda menghargainya (memperlakukannya). Ya, profesi itu pakaianmu. Artinya, SALES itu PAKAIANMU.

 

  1. KEYAKINAN ½ HATI

Keyakinan tinggi adalah bahan bakar untuk selalu berani jualan.

Tahu bedanya keyakinan rendah dan keyakinan tinggi?

Simpel aja…

Keyakinan itu berupa emosi, datangnya dari hati.

Ketika tiap harinya yakin sepenuh hati bisa ketemu 10 orang dan merasakannya dengan sepenuh keyakinan, maka hampir pasti Anda akan bertemu 10 orang itu. Begitupun sebaliknya.

Keyakinan tinggi sama dengan yakin sepenuh hati. Keyakinan rendah sama dengan yakin setengah hati.

Tuliskan apa aja keyakinan lama Anda yang jadi penghambatmu selama ini. Ganti keyakinan lama itu, bikin keyakinan baru yang bisa bikin kamu setiap hari berangkat jualan selalu dan makiiiin semangat.

Nggak cukup sampai sini aja, lanjut konsisten dilakukan setiap hari.

Caranya gimana?

Ini rumusnya:

Ubah kata, ubah keyakinan

Inikah kalimat-kalimat melemahkan yang sering muncul dan ‘ribut’ di kepala?

jualan itu susah

jadi sales itu memalukan”

“jualan terus susah laku”

“gak ada orang mau beli”

“males jualan”

“ditolak itu nyebelin”

Kalau betul kalimat-kalimat ini yang sering mengganggu, ganti setiap kalimat ini dengan kalimat lain yang nyemangatin, kemudian bayangkan dan rasakan apa dampaknya buat keberhasilan jualanmu:

Jualan itu susah Jualan itu menyenangkan dapat banyak teman, jualan itu menguntungkan dapat komisi, insentif, dan bonus selain gaji
Jadi sales itu memalukan Sales adalah profesi mulia

Banyak sales profesional yang bisa jadi manajer penjualan

Jualan terus susah laku Banyak sales yang berhasil jual banyak mobil

Tiap hari banyak mobil laku terjual

Banyak agent properti bisa jual 10 unit apartemen tiap bulan

Nggak ada orang mau beli Banyak mobil, motor, rumah, dan produk-produk yang laku dijual, artinya banyak pembelinya
Malas jualan Sales berhasil itu sales yang tekun

 

Ditolak pembeli itu menyebalkan Semua yang jualan pasti pernah ditolak

Nggak semua orang menolak, pasti akan ada yang nerima dan beli.

 

  1. “NGGAK GAUL”

Berapa jumlah teman SD, SMP, SMA, Kuliah, teman kantor, teman main, teman-teman dari teman-teman yang kita kenal?

Saking buanyaknya teman-teman kita, mengingatnya aja udah bikin pikiran kita sibuk mengurutkan satu per satu. Apalagi ditulis di agenda atau diketik di notebook semuanya. Bisa bisa puluhan, ratusan, ribuan nama.

Wow, baru nyadar ternyata kita anak gaul ya. Hehehe…

Bayangin, dari kumpulan link atau networking teman kita aja udah buanyak banget yang bisa kita deketin dan kita bagi info produk yang kita jual.

Belum lagi dari referensi teman-teman kita. Makin tambah terus tuh.

Tapi…lagi-lagi alasan-alasan ini yang muncul di kepala waktu jualan ke orang-orang dekat.

ah, gak enak nawarin ke temen sendiri

kalau pertemanan putus, gimana dong?

apa kata keluarga kalau tahu saya ini sales

Ini baru dari orang-orang yang kita kenal. Bayangin lagi, masih banyak peluang tanpa batas yang berasal dari lingkungan orang-orang di luar selain orang-orang yang kita kenal.

Jangankan 1 kota yang ukurannya luaaasss banget, dalam 1 komplek perumahan aja bisa dipastikan jumlah penghuninya buanyaaak banget.

Jangankan 1 gedung perkantoran yang punya jumlah karyawan ratusan, sepanjang jalan utama yang di kanan kirinya banyak gedung aja bisa dipastikan jumlah karyawannya ribuan.

Bisa coba dihitung, kira-kira berapa banyak orang yang bisa ditawarin produkmu?

Yup…bisa banget dipastikan unlimited alias nggak ada batasannya.

Trus kalau lahan segitu luasnya udah tersedia dan bisa langsung digarap, so what gitu loh?

Nah jangan tunggu diserbu sales-sales lain, waktunya buat gerak semangat biar laku cepat.

Buat para sales … TIME IS MONEY itu tepat.

Komisimu, profitmu bergantung pada jumlah target yang terpenuhi. Targetmu itu pembeli, karena pembeli yang punya money.

Target nggak penuh berarti money-nya juga nggak penuh dong…

Kalau sumber penghasilan sales itu asalnya dari orang dan orang dan orang, sedangkan Anda nggak mau dan nggak berani ketemu orang, dan yang butuh produk Anda itu juga orang, trus kalau nggak deketin orang-orang, Anda mau deketin siapa?

By the way, kamu tinggal di dunia nyata bukan dunia kasat mata.

Dunia maya alias internet itu kan juga dunia maya.

Gimanapun pengguna dan penghuni internet itu juga isinya manusia alias orang, bukan orang-orangan. Hehehe…

So, rajin-rajinlah bergaul.

 

5.HILANG FOKUS

Sedikit ngomong bukan berarti kamu lantas membatasi pembicaraan. Justru kamu perlu ingatkan dirimu untuk fokus pada solusi tepat apa saja yang bisa kamu sarankan ke pelanggan.

Menyimak adalah aktifitas Anda mendengar calon pembeli atau pelanggan dengan sungguh-sungguh, sehingga Anda benar-benar paham betul poin-poin penting apa aja yang mereka harapkan dari produk yang Anda jual.

Kalau selama ini Anda banyak ngomong dan berhasil, So sekarang ubah sedikit pendekatanmu dengan lebih fokus pada menyimak pelanggan.

Tentu aja hasilnya bakal beda dari sebelumnya, yaitu secara emosional hubungan kedekatan dengan pelanggan terasa lebih. Keuntungan lainnya, fokus pembicaraanmu jadi terfokus dengan sendirinya.

Saat masuk ke inti pembicaraan, buka dengan pertanyaan simpel yang berhubungan dengan kondisi pelanggan dan produk, misal:

Jika Anda sales mobil, maka Anda bisa buka pertanyaan dengan: ”Sekarang bapak gunakan mobil apa?”

Jika Anda sales properti yang menjual apartemen, maka Anda bisa buka pertanyaan dengan:”Apa ibu sudah punya atau tinggal di apartemen?”

Jika Anda sales tour and travel, maka Anda bisa buka pertanyaan dengan:”Apa kakak pernah pakai jasa tour keluar negeri sebelumnya?”

Apapun produkmu, biar tepat sasaran, sesuaikan juga pertanyaan pembukanya.

Selanjutnya…

Biarkan pelanggan menjawab atau bercerita. Tugasmu menyimak dengan baik, mencatat, dan mengingat poin-poin penting apa yang bisa jadi pembuka peluang closing.

Hindari mengajukan pertanyaan yang langsung memerintahkan pelanggan untuk beli. Misal:

”bapak sudah siap beli mobil sedan model terbaru kami?”

”kelihatannya ibu mau langsung beli apartemen yang saya jual?”

”kakak suka jalan-jalan ke Bali kan, pakai travel saya aja?”

Bukan cuma ini, tidak semua orang senang diajak bercanda atau senang dengan humor.

So, jualan yang elegan itu BANYAK MENYIMAK, SEDIKIT NGOMONG.  

 

6. NINGGALIN PELANGGAN

Mungkin masih ingat pepatah ini: ”habis manis, sepah dibuang

Mudah-mudahan semua sales di negeri ini dijauuuhkan dari sifat buruk ini… Amin…

Seorang sahabat pernah bilang : ”setiap orang itu punya kepentingan dengan orang lain. Penting pas situasi genting. Pergi menghilang setelah no thing”.

Pesan ini cocok buat penjual-penjual yang rajin awal-awal datang ke pelanggan di waktu target belum tercapai. Dan, meninggalkan pelanggan setelah target terpenuhi.

Tentu aja nggak semua sales kayak gitu.

 

7. TAKUT DITOLAK

Siapa yang bisa jamin semua produk yang dijual ke 10 orang tidak akan ada yang nolak?

Di saat lampu lalu lintas menyala merah, kendaraan berhenti. Ia sibuk berjalan dan menawarkan koran-korannya dari satu kendaraan ke kendaraan lain.

Pengendara yang beli koran, dilayani dengan antusias. Pengendara yang nggak beli koran, ada yang melambaikan tangan tanda nggak beli, ada juga yang cuek diam aja.

Apa pedagang koran lantas marah, ngambek, stress, kecewa ke semua pengendara yang cuek?

Ah biasa aja tuh. Yang nggak beli koran, dia tinggal dan cari pembeli lain. Yang beli koran, sigap cepat dilayani. Dia terus lakukan itu aja terus dari subuh sampai siang.

Belajarlah dari pedagang koran yang aktif sabar menawarkan koran-korannya di persimpangan jalan.

Sabar menanti pembeli, gembira koran dibeli.

By the way bus way…Kita juga pernah nolak tawaran sales atau SPG yang nawarin produknya ke kita kan?

Jadi, ditolak itu biasa yang semua sales akan mengalami.

Justru makin ditolak harusnya makin penasaran ingin tahu apa yang bikin mereka menolak tawaran terbaikmu.

Nggak usah stress atau sedih. Ingat, pelangganmu itu banyak banget yang lagi nunggu kedatanganmu untuk beli produk darimu. Bisa jadi sekarang, 1 jam lagi, 2 jam lagi…, nanti sore, nanti malam, besok, minggu depan, bulan depan…dan seterusnya.

Ayo, mulai sekarang katakan ini ke diri masing-masing: ”1 orang menolak itu biasa, tenang aja, masih ada 10 orang setelah ini yang siap menerimaku dan membeli dariku. Selalu semangat jualan”.

 

8. BOHONG

Kejujuran dan integritas menjadi dua syarat mutlak yang harus ditanamkan pada diri penjual manapun dan pada prakteknya, keduanya dilakukan secara beriringan.

Contoh, saat dalam proses pemesanan produk. Sales berjanji pada pelanggan bahwa pelanggan akan mendapat produk kualitas nomor 1 sesuai spesifikasi yang ada di katalog, tetapi nyatanya produk kualitas nomor 2 yang diberi.

Sales berjanji akan memenuhi pesanan produk dalam waktu 1 minggu, tetapi produk diantar setelah 2 minggu.

Sales berjanji memberi garansi segera mengganti kerusakan produk, jika terjadi kerusakan produk saat pengantaran di perjalanan, tetapi nyatanya waktu dan proses penggantiannya lama.

Ketidak jujuran dan disintegritas dapat menghilangkan TRUST pelanggan dalam hitungan detik atau menit. Ya secepat itu akibatnya jika seorang penjual meremehkan dan mengabaikan kejujuran dan integritas.

Saat seseorang BERBOHONG sesungguhnya ia sedang MEMBOHONGI dirinya sendiri. Artinya, penjual yang bohong sebenarnya sedang membohongi dirinya dan juga… profesinya.

KEBOHONGAN menghasilkan KEKECEWAAN PELANGGAN, berujung pada KEKECEWAAN DIRI sendiri.  

So, CIPTAKAN TRUST-TRUST dalam BENAK PELANGGAN diawali dari memprioritaskan KEJUJURAN dan INTEGRITAS diri dalam JUALAN dan PELAYANAN supaya PELANGGAN TERPUASKAN selalu.

Hukum Persuasi Penglaris yang Boleh

Anda yang pernah atau gemar belanja tentu tidak asing dengan istilah ‘penglaris’ atau ‘panglaris’.

Hal ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan hal mistis dan musyrik yang mungkin selama ini kita tahu itu. Justru penglaris atau panglaris itu hal yang wajar, boleh, sah-sah aja, dan disarankan dilakukan oleh setiap penjual.

Supaya nggak salah paham, baiknya baca dan pahami dulu penjelasannya…

Jika dicermati lagi, dalam satu hukum persuasi yang dikenal dengan hukum timbal balik, maka penglaris itu termasuknya.

Berapa kali saat Anda membeli apapun itu, kemudian penjual memberi lebih dari ukuran semestinya.

Tentunya kita pernah punya pengalaman-pengalaman ini…

Misal, saat beli jeruk di pedagang buah, pedagang buah ngasih tambahan 1 atau 2 buah jeruk. Begitupun saat beli nasi ayam goreng yang umumnya udah termasuk tahu goreng dan lalapan sayuran, kemudian sang penjual bilang : “lalapan sama sambalnya saya tambahin ya, mungkin aja kalau kurang, bisa tambah sendiri ntar.”

Dari pesan penjual itu nggak secara terang-terangan bilang ke pembeli supaya nanti kembali lagi, tapi pesannya terkesan disembunyikan, Ada maksudnya itu, tujuannya supaya para pembeli nagih dan datang lagi.

Meskipun, ada juga yang  terang-terangan bilang langsung pakai kata ‘penglaris’ atau ‘panglaris’ itu.

Dari hukum persuasi sebagai landasan keilmuannya, pedagang atau penjual yang memberi lebih dari standar porsi yang seharusnya, paling tidak,  ia sudah praktekkan 4 hukum persuasi ini; antara lain : Kontras, Timbal Balik, Bukti Sosial, dan Kesukaan.

  1. Hukum Kontras

Meski tidak secara langsung dilakukan, hal baik yang ditangkap oleh bawah sadar pembeli adalah pembeli memiliki alternatif untuk membeli di…katakanlah toko A, jika toko B, toko C belum buka atau masih tutup.

Penjual tidak mengatakan secara langsung kepada pembeli supaya ia kembali lagi, tetapi pesan di bawah sadarnya jelas.

  1. Hukum Timbal Balik

Sangat jelas pesannya pada hukum persuasi yang ini. Ketika penjual memberi lebih atau memberi secara cuma-cuma, maka pembeli yang merasa disenangkan hatinya, kecenderungannya dengan suka rela bersedia membeli dan penjual berharap bahwa pembeli kelak kembali beli lagi.

  1. Hukum Bukti Sosial

Pembeli lain yang saat itu sedang mengantri atau orang-orang yang kebetulan lewat, jadi ikut tertarik dan penasaran ingin mendapat hal (pengalaman) yang sama, karena melihat pembeli sebelumnya diberi ‘bonus’ oleh penjual.

  1. Hukum Kesukaan

Pembeli yang suka pada penjual yang murah hati untuk memberi lebih, suatu saat akan kembali membeli. Kabar baiknya, pembeli itu bisa menjadi ‘iklan’ gratis yang berbagi cerita kepada teman-temannya dan teman-temannya datang ikut membeli.

Bagi rekan-rekan yang pernah pelajari 6 hukum persuasi dari Dr. Robert Cialdini, dalam aplikasinya sangat luas dan mudah dapat digunakan dalam berbagai situasi penjualan, negosiasi, presentasi, pekerjaan, kehidupan sehari-hari, dan sebagainya.

‘Perubahan’ Itu yang Anda Mau

Perubahan adalah sesuatu yang pasti. Siapapun tidak bisa menolaknya. Tahukah Anda, apa yang tidak berubah? Yang tidak berubah adalah kata perubahan itu sendiri. Jadi terimalah kenyataan ini, bahwa di manapun kita berada, ke manapun kita melangkah, dengan siapa kita bergaul, semuanya akan mengarah pada suatu perubahan yang akan memengaruhi diri kita.

Meskipun Anda berkata bahwa perubahan itu tidak pernah ada, namun pada akhirnya akan Anda sadari bahwa peruabahan itu nyata. Bukankah Anda, saya, dan semua orang di seluruh muka bumi terlahir sebagai bayi yang kemudian beranjak menjadi anak-anak dan beranjak remaja, kemudian beranjak dewasa dan akhirnya menua. Usia terus bertambah, fisik yang kuat akan melemah, kulit mengeriput, dan gerakan melambat. Ya, itulah perubahan.

Jika setiap orang ingin berubah, maka hanya 2 pilihan. Berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya. Saya dan Anda sangat yakin, bahwa kita ingin berubah menjadi lebih baik dan semakin baik, bukan sebaliknya. Hanya saja, banyak orang yang ingin berubah secara finansial, berubah ke tingkat kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, berubah ke level jabatan yang lebih baik dari sebelumnya, dan banyak lagi perubahan-perubahan yang positif, tetapi semua itu tidak pernah terwujudkan.

Jika Anda adalah salesman yang ingin mencapai target penjualan secara terus menerus bahkan melampaui dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun, sudahkah saat ini Anda punya niat (keinginan) yang kuat untuk mewujudkan itu semua?

Pertanyaan dasar, berkaitan keinginan Anda untuk selalu meningkatkan penjualan Anda, bukan?

Jika Anda ingin penjualan terus mengalami peningkatan, artinya Anda menginginkan suatu perubahan pada hasil penjualan. Anda tidak mungkin terus menjual produk dengan target yang sama dari bulan ke bulan, dan tahun ke tahun. Targetpun mengalami perubahan dan perubahan ini bukan menurun, tetapi target yang Anda harus capai akan terus meningkat.

Dan, sudah siapkah Anda dengan kondisi ini?

Nah, pada kondisi inilah, sebagian salesman mulai mengeluh akan ketidaksanggupannya mencapai target penjualan yang semakin besar tersebut. Mereka memandang target penjualan yang terus meningkat sebagai suatu hal yang tidak mungkin diwujudkan, padahal bertindak pun, belum. Kondisi ini yang seringkali mengakibatkan target penjualan tidak akan pernah tercapai.

Saat mengalami demotivasi seperti ini, salesman perlu diberi suatu pemahaman yang tepat mengenai makna target penjualan. Perusahaan tidak bisa serta merta menekan para salesman untuk terus menjual, sementara mereka sedang kehilangan ‘selera’ menjual dan kondisi pasar dengan persaingan yang ketat.

Berikan alasan-alasan yang tepat dengan menggali permasalahan mereka. Kadang para salesman tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan untuk mencapai target penjualan yang semakin membesar. Harus diakui, setiap orang memiliki kreatifitas yang unik dan berbeda antara satu dengan lainnya yang tidak bisa disama ratakan bahwa semua salesman harus punya kreatifitas tinggi. Untuk mengubah penjualan yang masih ‘buruk’, Anda harus mengetahui akar persoalannya, cari tahu penyebabnya secara langsung dari salesman dan Anda bantu mereka mendapatkan solusinya. Menjadi menarik, ketika Anda sadar ternyata mudah menemukan solusinya.

Timbul pertanyaan, perubahan seperti apa yang kita inginkan? Bukan berubah asal berubah saja, pastinya. Tentunya, dalam bahasan terkait selling dan sales person atau menjual dan penjual, hal ini juga mengalami hal yang kurang lebih sama.

Anda dapat membuat perubahan apapun pada masa sekarang dan masa depan, kecuali satu masa yang Anda tidak akan pernah bisa ubah, yaitu mengubah masa lalu.

Bagaimanapun masa lalu bukan sesuatu yang buruk dan bukan berarti tidak ada manfaat yang bisa dipetik darinya. Banyak knowledge yang bermanfaat dan skill yang kita gunakan saat ini merupakan pengembangan dari masa lalu.

Jika profesi Anda saat ini adalah sales person, Anda harus senantiasa aktif mencari informasi terbaru dan strategi menjual yang sesuai dengan kondisi saat ini. Anda tidak bisa terus berputar menjual dengan cara-cara yang selalu sama, tanpa berinovasi.

Anda bisa menjual menggunakan cara-cara lama yang Anda pernah gunakan beberapa tahun lalu. Dulu cara-cara itu dapat diandalkan, namun sudahkah Anda meneliti kembali apakah cara-cara lama tersebut masih relevan pada kondisi saat ini, relevan saat digunakan pada calon pembeli dan pelanggan yang memiliki latar belakang bervariasi, dengan perubahan daya beli yang lebih baik dari masa dulu, dengan tingkat usia yang beragam, dan sebagainya.

Ketika Anda akan menemukan dan memutuskan menggunakan cara-cara baru dalam penjualan yang sebelumnya belum pernah Anda lakukan sama sekali. Ini bagian dari perubahan. Artinya, hal ini sesuatu yang perlu Anda pelajari dan pahami untuk selanjutnya Anda implementasi. Meskipun mungkin Anda belum memiliki gambaran jelas bagaimana mengimplementasikannya. Bagaimanapun Anda harus mencobanya, Anda harus melakukannya, sehingga Anda akan benar-benar melihat langsung hasilnya.

Jika apa yang Anda lakukan terbukti berhasil, ini pertanda baik. Anda telah menguji dan membuktikannya secara langsung. Selanjutnya, Anda dapat terus menggunakan cara-cara baru tersebut sambil Anda evaluasi dan pikirkan lagi cara-cara kreatif lain yang dapat meningkatkan penjualan.

Saat ini harus diakui bersama bahwa calon pembeli dan para pelanggan semakin cerdas, semakin kritis, semakin bebas berpendapat, semakin selektif memilih produk, semakin cepat berubah, dan tidak dapat diprediksi apakah mereka akan kembali membeli produk Anda atau justru mereka akan membeli produk yang serupa dengan produk Anda yang dibelinya dari pesaing.

Perubahan teknologi dan informasi yang bergerak cepat dan tidak dapat dibendung telah mempengaruhi kebiasaan dan perilaku calon pembeli dan pelanggan mengambil keputusan. Mereka begitu mudahnya mengakses bebas, cepat, mudah, dan seakan tanpa batas setiap informasi apapun perihal keunggulan dan kelemahan suatu produk yang mereka perlukan melalui media sosial dan internet. Hal ini berakibat pada awalnya mereka berminat untuk membeli dan tiba-tiba dalam beberapa menit saja mereka telah mengurungkan niatnya untuk membeli.

Demikian juga dengan para sales person baru semakin giat belajar dan berlatih dalam mengasah keterampilan mereka dalam berkomunikasi yang efektif dengan prospek dan pelanggan, bagaimana mereka telah memanfaatkan internet, email, website, sosial media, dan semacamnya.

Dapatkah Anda sebutkan, apa keunggulan Anda dalam menjual? Apa yang membuat prospek bersedia menerima telepon Anda dan bersedia mendengarkan penjelasan mengenai product knowledge dari Anda? Apa yang membuat Anda pantas diterima oleh prospek dan pelanggan?

Jika saat ini Anda masih menempatkan diri pada cara-cara lama yang tidak lagi menarik prospek dan pelanggan membeli dari Anda dan belum mengup­-date keterampilan Anda, alangkah baiknya segera Anda pikirkan solusinya.  

Berubah, mungkin bukan hal yang mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan Anda. Namun, jika Anda belum mulai memikirkannya, sementara teman-teman Anda sudah memutuskan berubah menuju masa depan yang mereka inginkan, apakah Anda akan pada pendirian untuk tidak berubah? Dalam menyikapi suatu perubahan, Anda harus membuka pikiran dan hati serta  siap menerimanya.

Perhatikan orang-orang di sekitar Anda. Ada yang mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Begitu juga ada yang setia bekerja menggunakan cara lama. Apakah Anda termasuk ke dalam kelompok yang sudah mengikuti perubahan yang terjadi atau termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang belum berubah? Andalah yang akan mengambil keputusan berarti itu.

Apa saja perubahan yang Anda inginkan dalam karir dan hidup serta selalu memotivasi Anda?

Pertanyaan ini memperjelas gambaran tujuan yang benar-benar Anda ingin raih dalam karir dan hidup Anda. Saat ini dan setiap hari Anda masih berada pada kondisi nyata dan melalui aktifitas rutin sebagai sales person dalam waktu delapan jam. Pendapatan (income) yang Anda peroleh harusnya dapat memacu Anda untuk berkeinginan lebih baik dari kondisi saat ini. Apakah Anda terpacu oleh kenaikan pendapatan (income) yang lebih lagi dari saat ini? Jika Anda termasuk tipe orang yang tidak terlalu mementingkan kenaikan pendapatan (income).

Apakah Anda termasuk orang yang mementingkan kenaikan jabatan? Mungkin Anda termasuk yang lebih senang memperoleh kenaikan jabatan dibanding pendapatan (income). Atau apakah Anda termasuk tipe orang yang menghendaki kenaikan atau peningkatan pendapatan (income) dan jabatan? Motivasi Anda akan lebih terarah saat Anda benar-benar mengetahui Anda termasuk tipe yang pertama atau tipe yang kedua atau tipe yang ketiga.

Dalam mewujudkan suatu perubahan, setiap orang selalu mengharapkan semua berjalan lancar, tanpa hambatan. Namun, pada kenyataannya, hambatan itu muncul. Jika Anda pernah mendengar bahwa memikirkan hambatan sama dengan merancang atau mempersiapkan hambatan yang seharusnya tidak ada, maka Anda perlu mewaspadai hal ini.

Hambatan yang dimaksud bukan berarti merekayasa hambatan tersebut sehingga yang sebelumnya tidak pernah ada menjadi ada. Sama sekali bukan itu. Anda tidak dituntut untuk membuat suatu hambatan, justru hambatan-hambatan itu sebenarnya sudah Anda ketahui sebelumnya. Tentu saja ini berbeda dengan merancang atau menciptakan hambatan, bukan?

Para sahabat sales person, sudahkah Anda persiapkan perubahan seperti apa yang Anda inginkan?

Memodel dan Modifikasi Perilaku ala NLP

Inti keunikan NLP, adalah modeling.

Ya, satu dari banyak hal yang membuat NLP menarik, ialah modeling atau memodel perilaku.

Setiap orang memiliki tokoh yang dibanggakan. Entah ia adalah orang tua, saudara, tokoh masyarakat, pebisnis, presiden, aktor, musisi, dan artis. Mereka telah melakukan yang disebut memodel. Tanpa disadari dan berjalan alamiah begitu saja.

Anak perempuan cenderung memodel ibunya. Anak lelaki cenderung memodel ayahnya. Kondisi alamiah yang terjadi begitu saja, betul?

Wajar ketika anak lelaki yang selalu mengamati keseharian ayahnya menyukur kumis dan jenggot. Ditirulah kebiasaan ayahnya itu. Penasaran memicu ia bertindak secara diam-diam atau terang-terangan membuka dan mengambil shaver milik ayahnya dan menggunakannya di depan cermin, seakan-akan ia pria dewasa.

Lain lagi dengan anak perempuan yang penasaran pada perlengkapan make up ibunya. Pada saat ibunya sedang lengah, anak perempuan dengan sigapnya membuka tas ibunya, mengambil perlengkapan make up milik ibunya, kemudian bereksperimen dengan lipstick, bedak, dan pemerah pipi di depan cermin. Lagi-lagi ia meniru persis apa yang selalu ibunya lakukan.

Saya mengamati para musisi melakukan hal serupa, yaitu memodel.

Saya penggemar musik instrument gitar. Saya ambil contoh mengenai bagaimana memodel yang dilakukan para gitaris tersebut. Konon para gitaris ternama di Amerika banyak yang berguru pada maestro kenamaan, Joe Satriani. Terbukti para murid menjadi piawai mahir bergitar karena selain peran sang guru, mereka meniru dan melakukan apa yang diajarkan oleh gurunya. Antara lain; Steve Vai, Alex Sckolnick, Kirk Hammett, Paul Gilbert, dan beberapa gitaris dunia pernah berkesempatan menjadi murid Joe Satriani.

Lalu, apa yang mereka model dari Joe Satriani?

Saat memelajari pola-pola solo gitar, pola rhytim, posisi memegang gitar, posisi memetik para murid, dan hampir 95% sama. Meskipun, suara yang gitar mereka hasilkan bervariasi akibat pengaruh efek distorsi. Mereka memodel perilaku bergitar dan pola permainan sang guru.

Hal sama dilakukan para orang sukses dengan memodel orang-orang tertentu yang mereka kagumi. Begitu juga dengan para master NLP yang belajar langsung maupun tidak langsung dari para pencipta NLP, Richard Bandler dan John Grinder. Dan saya adalah termasuk satu di antara orang yang beruntung bisa belajar NLP pada guru yang tepat itu.

Mengutip kalimat Bryan Tracy, “akan berguna jika Anda berlatih memikirkan orang-baik masih hidup maupun sudah meninggal-yang paling Anda kagumi. Karakter atau sifat apa dari orang-orang itu yang Anda anggap paling penting? Jika Anda bisa menjadi seperti salah satu dari mereka, kualitas apa yang ingin Anda tiru?

Mengutip dari The Art of Enjoying Life-nya Mas Teddi Prasetya Yuliawan, modelling berarti memodel perilaku excellent orang lain dan perilaku kita sendiri. Caranya, persis ketika memodel orang yang excellent. Kita petakakan strukturnya, untuk kemudian menyusun struktur yang baru sehingga kita memiliki pilihan perilaku yang lebih fleksibel.

Jika setiap orang memiliki orang-orang yang dikagumi, maka alangkah baiknya mereka dengan mudah memodel orang-orang tersebut. Ketika kita mulai memodel orang-orang yang kita kagumi, keuntungannya bahwa kita menjadi sangat tertarik menggali dan mengumpulkan banyak informasi terkait dengan mereka.

Apa saja yang mereka lakukan, bagaimana cara mereka mewujudkan kesuksesan, apa hambatan-hambatan yang mereka alami, dan sebagainya. Internet semakin memudahkan semua itu, bukan? Kita bisa susun struktur baru tentang perilaku apa yang kita ingin model dari orang-orang tepat yang berperilaku excellent itu, misal Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, para sahabat beliau, dan masih banyak lagi. Dan tentunya lakukan modifikasi perilaku kita sesuai yang kita butuhkan.

Anda, siapa yang ingin atau akan Anda model?