Kembali ke…Selling Spesialis!

Masih ingat jelas dalam ingatan saya, mungkin juga Anda pada acara Tukul Arwana, (Bukan) Empat Mata. Tagline khas diucapkan lantang penuh percaya diri di hadapan pemirsa televisi adalah…”kembali ke…laptop”.

Benar-benar tagline yang powerful pada masa itu. Walau sempat terjadi masalah yang menyebabkan tayangan Empat Mata sempat dihentikan, tetapi ide tim kreatif Empat Mata pantas diacungi jempol. Yup…Empat Mata tetap tayang dengan sedikit perubahan nama alias ditambahi kata ‘Bukan’ di depan 2 kata sesudahnya, yaitu Empat Mata.

Masalah, hambatan, tekanan, apapun namanya…yang berupaya menekan suatu langkah keberhasilan yang sudah berlangsung lama dan telah bertahan, tentu saja tidak layak untuk diterima begitu saja. Meski begitu, selalu ada hikmah yang bisa dipetik supaya pada langkah-langkah menuju keberhasilan berikutnya, ada catatan atau notes yang sebagai perhatian agar semua itu tidak terulang kembali.

Dan sesuai dengan topik yang ingin saya angkat yaitu…”kembali ke SELLING Specialist!”

Selling alias jualan adalah suatu aktifitas yang dilakukan bukan hanya oleh penjual, namun aktifitas ini dilakukan oleh mereka yang berprofesi selain penjual.

Tujuan selling sudah jelas, bagi penjual inginkan produknya habis terjual dibeli oleh para konsumen dan dapat untung besar. Belum cukup sampai sini, pastinya inginkan semua konsumen puas dan kembali beli lagi dan lagi.

Lalu, yang mereka bukan penjual, apa yang dijual?

Para karyawan menjual keahlian mereka yang sifatnya khas, bahkan sedikit atau jarang dari kebanyakan orang yang menguasai keahlian itu. Alhasil, konsumen mereka berani bayar mahal atau sesuai harga keahlian mereka. Dengan kata lain, mereka menawarkan ‘keunikan’ atau kelebihan (keunggulan) yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ya, mereka adalah para spesialis.

Omong-omong spesialis. Dokter spesialis dan dokter umum tentunya sangat berbeda kan?

Para spesialis biasanya memiliki harga yang lebih tinggi, namun begitu, harga yang tinggi juga perlu diimbangi dengan profesionalisme dan bukti kualitas kerja yang terbaik. Contoh lain, profesi trainer, coach, dan penulis buku juga merupakan spesialis.

Dan, tidak semua spesialis juga bisa dipercaya. Ada juga para spesialis yang hasil kerjanya biasa saja, bahkan tidak memuaskan sama sekali.

Coba perhatikan Tukul Arwana. Awalnya dia bukan spesialis host acara talk show Empat Mata dan Bukan Empat Mata. Seiring acara yang dibawakannya, terbentuklah keunikan seorang host talk show yang sebelumnya selalu dibawakan secara serius oleh host-host lain.

Justru, kekonyolan, humor segar, celetukan-celetukan, dan sikap apa adanya alias nggak jaim itu kemudian menjadi penarik perhatian para pemirsa penasaran ingin nonton lagi dan lagi. Bahasa gaulnya, tampilnya bikin ngakak.

Kemampuan Tukul kala itu terus mengalami kemajuan pesat dari waktu ke waktu. Performanya semakin membaik saja dan ia tetap rendah hati meski telah dikenal sebagai publik figur yang fee-nya konon telah mencapai nominal puluhan juta dalam sekali tayangnya.

Menjual diri membutuhkan waktu, hal ini terkait pada berapa sering frekuensi Anda bertemu para prospek dan para pelanggan setiap harinya, juga berapa jumlah pelanggan yang pernah menghubingi Anda kembali, artinya lambat atau cepat melalui cara inilah trust mereka pada Anda akan terbentuk. Semakin sering banyak pelanggan kenali saya, semakin banyak pelanggan tahu di mana dapat temukan saya untuk kebutuhan training-training sales, SPG, komunikasi….

Iklan

Selling Yourself-First Impression

Selalu saja ada yang menarik dan bisa diangkat dalam suatu obrolan santai dan hangat dari dunia sales. sejatinya setiap orang sudah memiliki potensi sebagai seorang penjual. Baik sebagai tenaga penjual yang bekerja pada suatu perusahaan maupun pemilik perusahaan alias pebisnis itu sendiri. Yang membedakan mereka adalah salesman bekerja pada perusahaan dan mendapat upah dari perusahaan yang memekerjakannya, sedangkan pemilik perusahaan harus berpikir lebih keras untuk keberlangsungan bisnisnya tetap bertahan. Bahkan, seorang calon karyawan yang sedang melamar pekerjaan sebenarnya sedang ‘menjual dirinya’ kepada perusahaan. Masih ingatkah Anda saat melamar pekerjaan dulu, di mana setiap pelamar pekerjaan rela datang dan mengantri ke suatu job fair. Ada yang berhasil ‘menjual dirinya’ alias berhasil diterima bekerja dan ada pula yang harus rela tersisihkan. Jadi, hampir dari sekian banyak aktifitas yang Anda lakukan berkaitan dengan menjual (selling). Hanya saja, banyak yang belum menyadari akan hal ini.

Karena setiap orang pada dasarnya sudah terdidik untuk menjual, meski mereka tidak atau belum menyadari akan hal itu, maka apa dan bagaimana Anda perlu secara sadar ‘menjual diri’ Anda tanpa Anda harus khawatir, ragu, dan gugup? Saya yakin bahwa Anda sudah sering melakukannya, betul? Baiknya mari kita simak ini bersama-sama….

selling yourself first impression

Jika Anda telah menetapkan mengambil salesman sebagai profesi, maka tanamkan dan tumbuhkan kesadaran terlebih dahulu bahwa menjadi salesman adalah pilihan utama yang karenanya bisa membuat Anda lebih percaya diri, membuat Anda lebih sukses, dan dengan bangga Anda berani mengakui diri sebagai salesman. Bukti yang bisa ditemui bahwa di luar sana banyak mereka yang berprofesi sebagai salesman, tetapi malu mengakui dirinya adalah salesman. Mereka menutupi profesi mereka dengan mengatakan bahwa diri mereka di depan setiap prospek sebagai seorang konsultan perusahaan, bahwa mereka adalah marketer, dan sebagainya. Mereka melakukan ini, karena kekhawatiran mereka bahwa setiap prospek yang mereka temui akan menolak saat mengetahui bahwa mereka adalah seorang salesman. Hal ini terjadi pada banyak salesman dan bagaikan virus yang perlahan menggerogoti kepercayaan diri mereka.

Pertanyaannya, apakah benar bahwa prospek akan menolak setiap orang yang mengenalkan dirinya sebagai salesman? Pada kenyataannya, tidak seorangpun yang akan menolak salesman. Ketahuilah bahwa alasan sebagian dari kita menolak seseorang yang sama sekali belum kita kenal adalah karena sebelumnya kita belum mengenalnya dan secara cepat timbul pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari kepala, seperti :

  • “Siapa Anda?”
  • “Apakah saya mengenal Anda?”
  • “Apa yang ingin Anda lakukan pada saya?”
  • “Apa yang ingin Anda tawarkan pada saya?”

Di luar dugaan, kenyataannya sebagian salesman merasa  kurang begitu yakin mengajukan penawaran terbaiknya. Hal ini dipicu oleh keraguan yang sedang mengisi pikiran dan perasaan saat itu. Alhasil, mereka tidak menunjukkan penampilan terbaik di awal bertemu para prospek. Inilah alasan mengapa first impression itu penting di kali pertama salesman bertemu prospek.

Oleh karena itu, sebelum prospek  mengisi dan membuat jawabannya sendiri tentang siapa diri Anda, maka first impression haruslah diiringi dengan perkenalan yang luwes, ramah, bersahabat, dan beritikad bahwa Anda ingin membantu prospek Anda dengan tulus supaya mereka bisa menemukan apa manfaat besar yang benar-benar mereka bisa peroleh dengan membeli produk Anda.

Hal ini adalah hal yang mudah Anda bisa lakukan setiap saat. Untuk melancarkannya diperlukan latihan secara berulang sampai Anda hilang kecanggungan ketika bertemu para prospek.